I.
Industrialisasi
1. Konsep dan Tujuan Industrialisasi
Industri adalah bidang mata pencaharian yang menggunakan keterampilan
dan ketekunan kerja (bahasa Inggris: industrious) dan penggunaan alat-alat di
bidang pengolahan hasil-hasil bumi dan distribusinya sebagai dasarnya. Maka
industri umumnya dikenal sebagai mata rantai selanjutnya dari usaha-usaha
mencukupi kebutuhan (ekonomi) yang berhubungan dengan bumi, yaitu sesudah
pertanian, perkebunan dan pertambangan yang berhubungan erat dengan tanah.
Kedudukan industri semakin jauh dari tanah, yang merupakan basis ekonomi,
budaya dan politik. Awal konsep industrialisasi revolusi industry abad 18 di
Inggris adalah dalam pemintalan dan produksi kapas yang menciptakan
spesialisasi produksi. Selanjutnya penemuan baru pada
pengolahan besi dan mesin uap sehingga mendorong inovasi baja, dan
begitu seterusnya, inovasi-inovasi bar uterus bermunculan. Industri
merupakan salah satu strategi jangka panjang untuk menjamin pertumbuhan ekonomi.
Tujuan industrialisasi itu sendiri adalah untuk memajukan sumber daya alam yang dimiliki oleh setiap Negara, dengan didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas, dengan industrialisasi ini maka, Negara berkembanga yang mampu memanfaatkannya dengan baik, maka akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Negara tersebut.
Tujuan industrialisasi itu sendiri adalah untuk memajukan sumber daya alam yang dimiliki oleh setiap Negara, dengan didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas, dengan industrialisasi ini maka, Negara berkembanga yang mampu memanfaatkannya dengan baik, maka akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Negara tersebut.
2. Faktor-faktor Pendorong Industrialisasi
Faktor-faktor
pendorong industrialisasi itu sendiri adalah :
a. kemampuan teknologi dan inovasi
b. laju pertumbuhan pendapatan nasional per-kapita
c. kondisi dan struktur awal ekonomi dalam negeri
d. besar pangsa pasar DN yang ditentukan tingkat pendapatan dan
jumlah penduduk
e. ciri industrialisasi yaitu cara pelaksanaan industrialisasi
seperti tahap implementasi
f. keberasaan SDA (sumber daya alam)
g. kebijakan atau strategi pemerintah
3. Permasalahan
Industrialisasi
Kendala bagi pertumbuhan industri di dalam negeri adalah
ketergantungan terhadap bahan baku serta komponen impor. Mesin-mesin produksi
yang sudah tua juga menjadi hambatan bagi peningkatan produktivitas dan
efisiensi. Permasalahan-permasalahan tersebut telah menurunkan daya
saing industri dalam negeri. Kementerian Perindustrian telah
mengidentifikasinya. Responsnya adalah dibuat Program Peningkatan
Penggunaan Produk Dalam Negeri. Namun, fakta di lapangan jauh dari
harapan. Regulasi pemerintah pusat tak seiring dengan regulasi pemerintah
daerah. Bahkan, di antara kementerian teknis bukan kebijakan
sendiri-sendiri.Tahun 2010-2014, Kementerian Perindustrian menargetkan
pertumbuhan industri nonmigas 8,95% dan kontribusi industri pengolahan
terhadap produk domestik bruto 24,67% Ditargetkan total investasi
2010-2014 mencapai Rp 735,9 triliun. Untuk mencapai target itu,
Kementerian Perindustrian membuat kerangka pembangunan industri nasional.
Kerangka itu yang akan menjadi acuan untuk membangkitkan industri agar siap
menghadapi perdagangan bebas dan ASEAN Economic Community. Agar
siap menghadapi itu semua, menurut Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo)
Anton Supit, peningkatan daya saing menjadi kunci utama. Leadership, mulai dari
presiden hingga pejabat pemerintah lainnya, yang mau mengenakan produk dalam
negeri juga tidak boleh diabaikan.
4. Strategi Pembangunan Sektor Industri
Tujuan
pembangunan industri nasional baik jangka menengah maupun jangka panjang
ditujukan untuk mengatasi permasalahan dan kelemahan baik di sektor industry maupun
untuk mengatasi permasalahan secara nasional, yaitu:
1.
Meningkatkan penyerapan tenaga kerja
industri;
2.
Meningkatkan ekspor Indonesia dan
pember-dayaan pasar dalam negeri;
3.
Memberikan sumbangan pertumbuhan
yang berarti bagi perekonomian;
4.
Mendukung perkembangan sector
infrastruktur;
5.
Meningkatkan kemampuan teknologi;
6.
Meningkatkan pendalaman struktur
industri dan diversifikasi produk
7.
Meningkatkan penyebaran industri.
Bertitik tolak dari hal-hal tersebut dan untuk menjawab tantangan di atas maka kebijakan dalam pembangunan industri manufaktur diarahkan untuk menjawab tantangan globalisasi ekonomi dunia serta mampu mengantisipasi. Perkembangan perubahan lingkungan yang sangat cepat.
Persaingan internasional merupakan suatu perspektif
baru bagi semua negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga
fokus dari strategi pembangunan industri di masa depan adalah membangun daya
saing industri manufaktur yang berkelanjutan di pasar internasional.
Untuk itu, strategi pembangunan industri manufaktur ke depan
dengan memperhatikan kecenderungan pemikiran terbaru yang berkembang saat ini,
adalah melalui pendekatan klaster dalam rangka membangun daya saing industri
yang kolektif.
Industri manufaktur masa depan adalah industri-industri yang mempunyai daya saing tinggi, yang didasarkan tidak hanya kepada besarnya potensi Indonesia (comparative advantage), seperti luas bentang wilayah, besarnya jumlah penduduk serta ketersediaan sumber daya alam, tetapi juga berdasarkan kemampuan atau daya kreasi dan keterampilan serta profesionalisme sumber daya manusia Indonesia (competitive advantage).
Industri manufaktur masa depan adalah industri-industri yang mempunyai daya saing tinggi, yang didasarkan tidak hanya kepada besarnya potensi Indonesia (comparative advantage), seperti luas bentang wilayah, besarnya jumlah penduduk serta ketersediaan sumber daya alam, tetapi juga berdasarkan kemampuan atau daya kreasi dan keterampilan serta profesionalisme sumber daya manusia Indonesia (competitive advantage).
Bangun susun sektor industri yang
diharapkan harus mampu menjadi motor penggerak utama perekonomian nasional dan
menjadi tulang punggung ketahanan perekonomian nasional di masa yang akan
datang. Sektor industri prioritas tersebut dipilih berdasarkan keterkaitan dan
kedalaman struktur yang kuat serta memiliki daya saing yang berkelanjutan serta
tangguh di pasar internasional. Pembangunan industri tersebut diarahkan pada penguatan daya
saing, pendalaman rantai pengolahan di dalam negeri serta dengan mendorong
tumbuhnya pola jejaring (networking) industri dalam format klaster yang sesuai
baik pada kelompok industri prioritas masa depan, yaitu: industri agro,
industri alat angkut, industri telematika, maupun penguatan basis industri
manufaktur, serta industri kecil-menengah tertentu. Dengan memperhatikan
permasalahan yang bersifat nasional baik di tingkat pusat maupun daerah dalam
rangka peningkatan daya saing, maka pembangunan industri nasional yang sinergi
dengan pembangunan daerah diarahkan melalui dua pendekatan. Pertama, pendekatan
top-down yaitu pembangunan
industri yang direncanakan (by design) dengan memperhatikan prioritas yang
ditentukan secara nasional dan diikuti oleh partisipasi daerah. Kedua,
pendekatan bottom-up yaitu
melalui penetapan kompetensi inti yang merupakan keunggulan daerah sehingga
memiliki daya saing. Dalam pendekatan ini Departemen Perindustrian akan berpartisipasi
secara aktif dalam membangun dan mengembangkan kompetensi inti daerah tersebut.
Hal ini sekaligus merupakan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat di
daerah, yang pada gilirannya dapat mengurangi tingkat kemiskinan dan
pengangguran.
5. Data Statistik
PDB Tahun-tahun Akhir Berdasarkan Sektor dan Bandingkan Peran Sektor Industri
dengan Sektor Lainnya
Pertumbuhan ekonomi merupakan salah
satu ukuran dari hasil pembangunan. Pertumbuhan ekonomi menunjukkan pertumbuhan
produksi barang dan jasa tertentu di suatu wilayah perekonomian dan dalamselang
waktu tertentu. Produksi tersebut diukur dalam nilai tambah yang diciptakan
oleh sektor-sektor ekonomi di wilayah bersangkutan yang secara total dikenal
sebagai Produk Domestik Bruto (PDB). Oleh karena itu, pertumbuhan ekonomi
adalah sama dengan pertumbuhan PDB.
Distribusi PDB
menurut sektor ekonomi atau lapangan usaha atas dasar harga berlaku menunjukkan
peranan dan perubahan struktur ekonomi dari tahun ke tahun. Tiga sektor utama
yaitu : sektor industri pengolahan, sektor pertanian dan sektor perdagangan,
hotel dan restoran mempunyai peranan sebesar 53,8% tahun 2010. Sektor
pengolahan industri memberi kontribusi sebesar 23,8% , sektor pertanian dan
sektor perdagangan, hotel dan restoran mempunyai peranan masing-masing sebesar
15,3% dan 13,7%.
Dilihat dari peranan, sektor
industri merupakan sektor yang menyumbang terbesar dalam PDB maka dalam proses
pembangunan ekonomi sektor industri dijadikan prioritas pembangunan yang
diharapkan mempunyai peranan penting.
Industri
pengolahan adalah industri yang sangat strategis. Industri ini dipandang mampu
mendorong perekonomian Indonesia sedang berkembang. Dengan didukung oleh SDM
yang melimpah, maka sektor industri diharapkan akan mampu menyerap tenaga kerja
yang besar. Pada kenyataannya penyerapan tenaga kerja pada sektor industri
pengolahan kurang mampu untuk menyerap tenaga kerja yang tinggi.
Berdasarkan
data yang disajikan diatas, kita dapat melihat bahwa peranan sektor industri
saat ini mengalami penurunan jika dibanding dengan tahun 2008 dan 2009. Hal
inilah yang seharusnya menjadi perhatian negara untuk memajukan peranan sektor
industri. Tidak hanya itu saja, tetapi juga meningkatkan pertumbuhan di semua
sektor yang dimiliki negara.
II. Neraca
Pembayaran dan Tingkat Ketergantungan Pada Modal Asing
1. Neraca
Pembayaran
Neraca pembayaran adalah sebuah
catatan sistematis dari semua transaksi ekonomi internasional (perdagangan,
investasi, pinjaman) yang terjadi antara penduduk dalam nengeri pada suatu
negara negara dengan penduduk luar negeri selama jangka waktu tertentu biasanya
satu tahun dan biasa dinyatakan dalam dolar AS. Neraca pembayaran ini sangat
berguna karena menununjukan struktur dan komposisi transaksi ekonomi dan posisi
keuangan internasional dari suatu negara dengan begitu kita bisa mengetahui
secara terperinci. Lemabaga keuangan seperti IMF, bank dunia dan negara-negara
donor juga menggunakan pemberi bantuan
keuangan kepada suatu negara. Rekening
neraca pembayaran dalam upaya mengetahui apa yang sedang berlangsung pada
perdagangan internasionla, pemerintah mengawasi transaksi anat negara yang
disusun dalam rekening neraca pembayaran.
Transaksi
berjalan (currrent account)
Mencatat transaksi pembayaran
yang muncul dari perdangan barang dan jasa serta dari pendapatan berupa bunga,
keuntungan, dan deviden dari modal yang dimiliki di satu negara dan di
investasikan di negara lain. Neraca
Pembayaran secara Keseluruhan Harus
Berimbang Pada nilai yang berlaku antara
dolar dan yen, para pemegang yen ingin membeli dolar lebih banyak dari para
pemegang dolar yang menginginkan yen. Akan tetapi, para pemegang yen
sesungguhnya tidak dapat membeli lebih banyak dolar dari yang bisa dijual oleh
para pemegang dolar. Disebabkan jumlah dolar yang diminta melebihi jumlah yang ditawarkan. Pada
penjelasan di atas berlaku kaidah, bila kita menjumlahkan semua penerimaan,
maka semuanya harus sama dengan seluruh pembayaran yang dilakukan oleh pemegang
dolar. Hubungan tersebut dapat dinyatakan dalam persamaan: C_R+ K_R+ F_R=C_P+ K_P+F_P
Dimana:
C :
Transaksi Berjalan
K :
Neraca Modal
F :
Transaksi pemerintah
P :
Pembayaran
R :
Penerimaan (BOP terdiri atas tiga saldo, yakni saldo neraca transakski berjalan (TB), saldo neraca modal (CA), dan saldo neraca moneter (MA)
· Neraca
Saldo (TB) : jumlah saldo dari neraca perdagangan (NP) yang dimana mencatat
ekspor (X) dan impor (M) barang, yang mencatat X dan M juga terrmasuk
pendapatan royalti dan bunga deposito, dan kiriman uang tenaga kerja indonesia
di luar negeri. Yakni yang mencatat transaksi keuangan internasioannl sepihak
atau tanpa melakukan kegiatan tertentu sebagai kmpensasi dari pihak penerim.
Contohnya seperti mendapat hibah atau bantuan dari luar negeri.
· Neraca
modal (CA) : neraca yang mencatat arus modal (K) jangka pendek dan jangka
panjang yang masuk dan keluar. Berbeda dengan pencatatan pada TB dalam CA , M
modal atau arus K masuk dianggap sebagi keuntungan bagi negra yang
bersangkutan, oleh sebab itu dicatat sebagai transaksi kredit (positif)
sedangkan arus kas K keluar (kerugian) dicatat sebagai transaksi debit
(negatif).
· MA atau
disebut juga “lalu lintas moneter” yaitu neraca yang mencatat perubahan cadangan devisa yang masuk
dan keluar dari suatu negara dalam suatu periode tertentu yang dicatat oleh
bank centralnya, Sehingga keluar masuknya devisa tercatat
dengan jelas dan detail. Sedangkan perubahan CD atau saldo devisa yang
diperoleh dari penjumlahan saldo TB dan saldo CA, jadi bukan CD yang dicatat
secara resmi, disebut neraca cadangan (RA).
Relasi
anatara BOP dan CD atauu RA dapat disederhanakan
dalam bentuk persamaan berikut : CD = BOP = TB + CA
Transaksi
barang dan jasa
Persamaan
penghasilan nasional :Y = C + I + G + ( X – M )
Keterangan
:
Y =
Penghasilan Nasional
C =
Pengeluaran Konsumsi
I =
Pengeluaran Investasi
G =
Pengeluaran Pemerintah
X =
Ekspor
M = Impor
( X – M ) merupakan
neraca pembayaran (netto). Apabila (X – M) positip berarti ( C + I + G ) <
Y, implikasinya bahwa suatu negara
menghasilkan lebih banyak dari yang digunakan sehingga kelebihan dijual di luar
negeri, ( X – M ) bernilai negatip berarti negara itu pengeluarannya lebih
besar dari pada yang dihasilkan.
Transaksi Modal
Transaksi modal terdiri:
a.
Transaksi modal jangka pendek:
Ø Kredit
untuk perdagangan dari negara lain (kredit)
Ø Kredit
perdagangan kepada penduduk negara lain (debet)
Ø Deposit
bank di LN (debet)
Ø Deposit
bank dalam negeri milik penduduk negara lain (kredit)
Ø Pembelian
surat berharga LN jk. pendek (debet)
Ø Penjualan
surat berharga jk. pendek kpd penduduk LN (kredit)
b. Transaksi
modal jangka panjang:
Ø Investasi
langsung di luar negeri (transaksi debet )
Ø Investasi
asing di dalam negeri (transaksi kredit ).
Ø Pembelian
surat berharga jk. panjang penduduk LN (debet)
Ø Pembelian
surat berharga jk. panjang DN oleh penduduk LN (kredit)
Tujuan
Neraca Pembayaran
Untuk memberikan informasi
kepada pemerintah tentang posisi keuangan dalam hubungan
ekonomi dengan negara lain serta membantu di dalam pengambilan kebijaksanaan
moneter, fiskal, perdagangan dan
pembayaran internasional.Beberapa Pengertian “Balance“ Dalam Suatu Neraca
Pembayaran.
Konsep “Balance“ dalam neraca pembayaran mempunyai arti yang
berbeda-beda. Pada dasarnya ada empat pengertian
balance :
·
Basic Balance: Basic
balance terdiri dari balance dalam transaksi sedang berjalan ditambah
transaksi modal jangka panjang. Basic Balence memberikan informasi tentang
perubahan perekonomian terhadap aliran modal jangka pendek
transaksi modal jangka panjang. Basic Balence memberikan informasi tentang
perubahan perekonomian terhadap aliran modal jangka pendek
·
Balance Transaksi “Autonomous“: Balance ini terdiri dari basic balance ditambah dengan aliran
modal jangka pendek.
·
Balance Transaksi:
Pemerintah Jangka Pendek Neraca pembayaran terdiri dari
penjumlahan basic balance, selisih yang diperhitungkan dan rekening modal
jangka pendek. Ketidak seimbangan yang timbul dalam
neraca pembayaran diseimbangkan dengan cadangan modal pemerintah serta.
Masalah
Dalam Analisis Neraca Pembayaran
Tujuan analisi neraca pembayaran sangat berbeda - beda dan perbedaan ini menentukan pola analisanya. Beberapa
masalah atau kekeliruan yang sering timbul dalam analisa neraca pembayaran antara
lain :
A. Sering kali mengabaikan saling hubungan antara transaksi internasional
yang satu dengan yang lain, sehingga ketidak seimbangan dalam neraca pembayaran
diasosiasikan dengan satu transaksi saja tanpa melihat hubungannya dengan yang
lain
B. Surplus
Transaksi yang sedang berjalan sering dianggap baik, sebaliknya deficit
dianggap jelek.
C. Keputusan
untuk memberi bantuan (Aid) seharusnya lebih didasarkan pada kekuatan ekonomi
negarasecarakeseluruhan.
2. MODAL
Manfaat Bagi Negara Pemberi dan
Negara Penerima
Seperti halnya perdagangan
Internasional, mobilisasi modal antar negara mempunyai manfaat bagu negara
pengekspor maupun pengimpor modal tersebut. Proyek investasi dengan
tingkat pengembalian (Return on Investment, ROI) yang tinggi di suatu negara
tidak akan dikorbankan karena kelangkaan dana, sementara proyek investasi
dengan hasil yang rendah di negara yg memiliki dana dana berlimpah dapat terus
dilaksanakan. Manfaat dari adanya investasi dari DCs di LDCs juga harus dilihat
dalam bentuk pertumbuhan output (PDB) kesempatan kerja dan pendapatan,
peralihan teknologi, pengetahuan manajemen, dll.
Pembiayaan Defisit
Tabungan-Investasi ( S-I Gap )
Bagi Indonesia modal asing
diperlukan bukan hanya untuk membiayai defisit neraca transaksi berjalan atau menutupi
kekurangan CD, tetapi juga untuk membiayai investasi di dalam negeri. Defisit
neraca transaksi berjalan paling tidak harus dikompensasi dalam jumlah yg sama
oleh surplus CA agar CD tidak berkurang. Semakin besar defisit neraca transaksi
berjalan, semakin besar modal masuk yg diperlukan untuk menjaga agar CD tidak
berkurang. Indonesia selama ini sangat tergantung modal asing untuk membiayai
investasi didalam negeri karena dana yg bersumber dari tabungan lebih kecil
daripada kebutuhan dana untuk investasi.
Perkembangan Arus Modal Masuk
Sebagian besar modal asing yang
masuk ke Indonesia adalah modal resmi, walaupun porsinya bervariasi antar
tahun. Ini karena modal asing resmi lebih dominan dibandingkan modal swasta
sebagai sumber eksternal bagi pembiayaan tabungan-investasi gap
Indonesia. Terutama sejak krisis ekonomi yg disusul dengan krisis politik dan
sosial, peran modal asing resmi semakin penting terutama dari IMF, Bank Dunia
dan CGI, sedangkan peran dari modal asing berkurang karena indonesia menjadi
tidak menarik lagi atau tidak aman untuk investasi.
Sebenarnya yang penting bukan angak persetujuan untuk
diperhatikan., tetapi angka realisasinya. Data dari BKPM yang diolah oleh
Litbang harian Kompas menunjukan bahwa nilai realisasi investasi langsung di
Indonesia baik PMDN maupun PMA rata-rata pertahun sangat kecil sebagai suatu
persentase dari nilai investasi yg disetujui.
Arus Modal Resmi
Arus modal resmi dalam bentuk
pinjaman maupun bantuan pembangunan dari negara-negara donor secara individu (pinjaman
bilateral). Pada saat ktisis Indonesia membutuhkan bantuan luar negeri karena
modal asing swasta menurun drastis. Pada saat investasi asing mulai masuk lagi
ke Indonesia, bantuan luar negeri terutama dalam bentuk bantuan pembangunan dan
pinjaman dari IMF menunjukan tren yang menurun.
Bagian terpenting dari arus modal resmi yg diterima oleh
pemerintah indonesia setiap tahun adalah bantuan pembangunan dalam bentuk
pinjaman dengan bunga sangat murah dan persyaratan-persyaratan sangat lunak,
maupun dalam bentuk hibah. Ketergantungan pemerintah terhadap bantuan
pembangunan dari sumber eksternal berkorelasi negatif terhadap defisit keuangan
pemerintah (APBN) yakni sebagai berikut:
BPN = G – Ty
BPN =
bantuan pembangunan neto
G =
pengeluaran pemerintah
Ty =
pendapatan pemerintah
Apabila G>Ty yakni APBN defisit, arus APBN ke Indonesia
positif, dan sebaliknya. Karena defisit APBN dibiayai
oleh modal asing resmi yg sebagian besar dalam bentuk pinjaman, maka semakin besar defisit APBN, semakin besar
pemerintah dalam pembayaran bunga pinjaman.
Dan semakin besar pembayaran bunga pinjaman, semakin besar
defisit NJ (Transfer Netto) yang
kalau lebih besar dari pada surplus NP mengakibatkan semakin besar defisit saldo TB. Berarti, defisit TB mempunyai
suatu korelasi yang kuat dengan arus modal asing resmi atau BPN.
3. UTANG LUAR NEGERI
Salah satu komponen terpenting
dari arus modal masuk yang banyak mendapat perhatian
di dalam literatur mengenai pembangunan ekonomi di LDCs adalah ULN. Tingginya
ULN dari banyak LCDs disebabkan oleh faktor-faktor:
ü Defisit
TB
ü Kebutuhan
dana untuk membiayai tabungan - investasi gap yang negative
ü Tingkat
inflasi yang tinggi
ü Dan
ketidakefisiensinya struktural di dalam perekonomian mereka.
Jika
sebuah negara telah mecapai suatu tingkat pembangunan tertentu pada fase
terakhir dari proses pembangunan, ketergantungan negara tersebut terhadap
pinjaman luar negeri akan lebih rendah dibandingkan dengan periode pada saat
negara itu baru mulai membangun. Proksi yang umum digunakan untuk mengukur
tingkat pembangunan sebuah negara adalah tingkat PDB dalam nilai riil
perkapita, sedangkan indikator - indikator makro yang umum
digunakan untuk mengukur tingkat ketergantungan sebuah negara yerhadap bantuan
atau ULN adalah misalnya rasio ULN-PDB atau rasio ULN terhadap nilai total dari
perdagangan luar negeri ekspor+impor atau terhadap nilai ekspor.
Perkembangan
ULN Indonesia
Dalam kasus Indonesia, tren perkembangan ULN nya cenderung menunjukkan suatu korelasi positif antara
peningkatan jumlah ULN yang sering disebut Growth With Indebtedness.
ULN
Indonesia terdiri dari sektor publik (Pemerintah dan BUMN) dan swasta yang
digaransi maupun tidak oleh pemerintah. Sejak krisis ekonomi pinjaman dari IMF
menjadi komponen penting dari ULN pemerintah yang dapat dikatakan sebagai
penyelamat Indonesia hingga tidak sampai mengalami status kebangkrutan secara
finansial.
Khusus
untuk ULN pemerintah, salah satu rasionya dalah pembayaran DS terhadap pengeluaran pemerintah. Selama periode 1993-1994-2000, rasio
paling rendah adalah 60% (1993-1994) dan paling tinggi adalah 140% (2000) .
Perhitungan rasio ini tidak termasuk utang dari IMF. Rasionya akan lebih tinggi
jika termasuk IMF. Rasio pembayaran DS terhadap
pengeluaran pemerintah tersebut jauh lebih besar dibandingkan rasio BP luar
negeri terhadap pengeluaran pembangunan, yang artinya beban pembayaran DS lebih
besar daripada keuntungan dari adanya pinjaman lunak untuk membiayai pinjaman.
Beban
pemerintah dalam pembayaran DS menjadi semakin besar sejak krisis ekonomi atau
tepatnya sejak pemerintah melibatkan IMF dalam usaha pemulihan ekonomi
nasional. Jumlah tersebut merupakan bunga atas pinjaman yg tidak dapat dipakai
oleh pemerintah karena pinjaman dari IMF itu hanya boleh difungsikan sebagai
pendukung.
BI
membuat perhitungan mengenai jadwal pembayaran DS yg harus dilakukan oleh
pemerintah kepada IMF selama periode 2002-2010. Perhitungan ini didasarkan pada
jumlah utang dari IMF yang diterima oleh pemerintah hingga Juni 2002 sebesar
9,4 miliar dolar AS. Hingga 2010 jumlah pokok utang dan bunga yang dibayar
mencapai masing-masing 9,4 miliar dolar AS dan hampir 1 miliar dolar AS.