PENGANTAR BISNIS
Handmade Shoes
Disusun oleh :
Piter Paolas Pangemanan (28214452)
Dosen :
S. Tiwi Anggraeni
BAB I
Pendahuluan
Kreatif dan inovatif adalah karakteristik personal yang terpatri kuat dalam diri
seorang wirausaha sejati. Bisnis yang dilandasi upaya kreatif dan inovatif dari
sang wirausaha biasanya tidak dapat berkembang abadi. lingkungan bisnis yang
dinamis menurut wirausaha untuk selalu adaptif dan mencari terobosan
terbaru. Karakter cepat berpuas diri dan cederung stagnan sama saja membawa
bisnis ke arah kematian.
Pemahaman
kreatif dan inovatif sering sekali dipertukarkan satu sama lain. Menurut
Zimmerer dkk. (2009) kreatifitas adalah kemampuan untuk megembangkan ide-ide
yang baru dan untuk menemukan cara cara baru dalam melihat masalah dan peluang.
Inovasi adalah kemampuan untuk menenerapkan solusi kreatif masalah dalam
peluang untuk meningkatkan atau untuk memperkaya kehidupan orang-orang.
selanjutnya ted levitt (dalam Zimmerer, 2009) menyatakan bahwa
kreatifitas memikirkan hal hal baru dan inovasi hal hal baru. jadi
kreatif adalah sifat yang selalu mecari cara cara baru dan inovatif
adalah sifat yang menerapkan solusi kreatif. Kreatif tapi
tidak inovatif adalah mubazir karna ide hanya sdebatas pemikiran
tanpa adanya realisasi. Semua bisnis yang maju dan berkembang hingga kini
bepangkal pada upaya kreatif dan inovatif. Banyak restoran waralaba asing yang
telah mengglobal dan berdiri sejak puluhan tahun yang lalu selalu menunjukan
karakter ini. seperti begitu mudah dan sederhana. tetapi banyak wirausaha
yang abai ketika bisnis telah dirasakan mencapai tingkat kemapanan. Kreatifitas
dan inovasi mugkin dapat di pandang sebagai upaya yang menggaggu keseimbagan
yang telah tercipta.
Kreatif
dan inovatif dapat diterapkan secara sederhana. kunci nya adalah kepekaan dalam
mencium peluang dan kemampuan membaca pasar. seorang member MRC misalnya,
ketika ketika pelanggan sudah mulai jenuh dengan fried chicke, ia masih melihat
ada peluang lai yang masih di kembangakan. berhubung gerainya ada di kantin
sekolah, ia mencoba memahami selera siswa. Kebanyakan siswa menyukain selera bumbu
keju. ia memiliki ide bagaimana bumbu keju dapat digabungkan dengan ayam. Pemikiran
kreatif ini kemudian dikembangkan menjadi produk yang dinamai : Cheesy Chicken. Hasilnya lumayan bagus.
Setelah tes pasar dan dijual terbatas, pelanggan begitu menyukai menu ini.
Pelanggan selalu mencari produk ini dan produk yang dijual selalu terjual
habis.
BAB II
Isi
Isi
Handmade shoes atau sepatu buatan tangan semakin diminati konsumen. Banyak
konsumen kepincut sepatu ini karena bisa memesan langsung ke produsennya, baik
model, bahan, dan warnanya. Alhasil, bisnis handmade shoes kian berkembang dengan omzet puluhan juta.
Selain
sebagai alas kaki, kini sepatu berfungsi juga sebagai perlengkapan fesyen yang
dapat menunjang penampilan seseorang. Makanya, bagi sebagian orang, kebutuhan
akan sepatu tidak bisa asal beli. Guna menunjang penampilan, sepatu harus
benar-benar pas, baik dari segi desain maupun kenyamanannya. Sayangnya, tidak semua sepatu yang ada di pasaran
sesuai dengan selera konsumen. Sebagai alternatif, konsumen kini bisa melirik
sepatu-sepatu buatan tangan atau handmade shoes yang sekarang banyak membuka gerai di mal-mal. Salah satu pemain di bisnis ini adalah Edo Fahmi
bersama pasangannya Ardisa Lestari. Sejak 2009, mereka merintis bisnis dengan
bendera usaha bernama Ade Creatzs. Awalnya, ia mengaku hanya mencari uang
tambahan sembari kuliah.
Edo awalnya berjualan lewat online dan ternyata respons pasar bagus. "Sekarang saya sudah punya bengkel kerja sendiri di Jakarta Timur," ujarnya. Selama ini, ia fokus menekuni bisnis handmade shoes khusus wanita. Menurut Edo, bisnis handmade shoes memerlukan kreativitas dan kemampuan di bidang desain sepatu. Untuk, produsen handmade shoesharus terus mengikuti tren desain sepatu, baik di dalam maupun di luar negeri. Lantaran sepatu ini dibuat secara handmade, produksinya juga relatif terbatas. "Makanya sepatu handmade memiliki eksklusivitas karena tidak diproduksi massal," kata Edo. Ia sendiri menyediakan beberapa model sepatu mulai dari model heels shoesyang serba-hak tinggi, wedges shoes dengan sol tebalnya, dan flat shoes yang bentuknya relatif datar dan santai. Di luar itu, ia juga melayani pesanan model yang diinginkan oleh pelanggannya. "Pelanggan bisa pesan model, ukuran hak sepatunya, dan juga warnanya," jelasnya.
Sepatu buatannya kebanyakan menggunakan bahan, seperti beludru dan kanvas. Karena bukan kulit, sepatu buatannya relatif murah, yakni Rp 145.000 - Rp 300.000 per pasang. Selain Jabodetabek, pelanggannya saat ini tersebar ke daerah lain, seperti Aceh dan Papua. Dengan dibantu lima karyawan, dalam sehari, Edo bisa memproduksi 45 pasang sepatu. Dari usaha ini, Edo mengantongi omzet hingga Rp 30 juta per bulan, dengan laba bersih sekitar 25%-30%. Namun, acap pesanan yang masuk jauh di atas kemampuan produksi. "Karena banyak yang pesan kami harus menerapkan sistem daftar tunggu” ujarnya.
Pemain lain yang sukses menekuni usaha ini adalah Sebastian Reza yang mengusung brand Seba Shoes asal Bandung, Jawa Barat. Selain di Bandung, gerai Seba Shoes kini bisa ditemui di kota-kota besar, seperti Jakarta dan Makassar. Manajer dan supervisor Seba Shoes di Ciumbuleuit, Bandung, Ricky Ravesia, menyatakan, harga sepatu di tokonya dijual mulai dari Rp 650.000, Rp 750.000, hingga Rp 850.000. Setiap konsumen diberi kesempatan memesan sepatu sesuai dengan selera mereka.
Namun, konsumen yang ingin mengubah warna dan bahan dari model yang sudah ada akan dikenakan biaya tambahan sekitar Rp 150.000 dari harga aslinya.
Dalam sebulan, Seba Shoes rata-rata memproduksi sebanyak 500 sampai 600 pasang sepatu. Hasil produksi itu kemudian didistribusikan ke toko-toko resmi Seba Shoes. Setiap toko rata-rata mendapat pasokan 150 pasang sepatu. Dari situ, Seba Shoes bisa mengantongi omzet lebih dari Rp 300 juta dengan laba bersih di atas 10%.
"Produk sepatu kami ini masih diproduksi secara home industri di Bandung. Bahannya sendiri menggunakan kulit sapi luar dalam," jelas Ricky.
Edo awalnya berjualan lewat online dan ternyata respons pasar bagus. "Sekarang saya sudah punya bengkel kerja sendiri di Jakarta Timur," ujarnya. Selama ini, ia fokus menekuni bisnis handmade shoes khusus wanita. Menurut Edo, bisnis handmade shoes memerlukan kreativitas dan kemampuan di bidang desain sepatu. Untuk, produsen handmade shoesharus terus mengikuti tren desain sepatu, baik di dalam maupun di luar negeri. Lantaran sepatu ini dibuat secara handmade, produksinya juga relatif terbatas. "Makanya sepatu handmade memiliki eksklusivitas karena tidak diproduksi massal," kata Edo. Ia sendiri menyediakan beberapa model sepatu mulai dari model heels shoesyang serba-hak tinggi, wedges shoes dengan sol tebalnya, dan flat shoes yang bentuknya relatif datar dan santai. Di luar itu, ia juga melayani pesanan model yang diinginkan oleh pelanggannya. "Pelanggan bisa pesan model, ukuran hak sepatunya, dan juga warnanya," jelasnya.
Sepatu buatannya kebanyakan menggunakan bahan, seperti beludru dan kanvas. Karena bukan kulit, sepatu buatannya relatif murah, yakni Rp 145.000 - Rp 300.000 per pasang. Selain Jabodetabek, pelanggannya saat ini tersebar ke daerah lain, seperti Aceh dan Papua. Dengan dibantu lima karyawan, dalam sehari, Edo bisa memproduksi 45 pasang sepatu. Dari usaha ini, Edo mengantongi omzet hingga Rp 30 juta per bulan, dengan laba bersih sekitar 25%-30%. Namun, acap pesanan yang masuk jauh di atas kemampuan produksi. "Karena banyak yang pesan kami harus menerapkan sistem daftar tunggu” ujarnya.
Pemain lain yang sukses menekuni usaha ini adalah Sebastian Reza yang mengusung brand Seba Shoes asal Bandung, Jawa Barat. Selain di Bandung, gerai Seba Shoes kini bisa ditemui di kota-kota besar, seperti Jakarta dan Makassar. Manajer dan supervisor Seba Shoes di Ciumbuleuit, Bandung, Ricky Ravesia, menyatakan, harga sepatu di tokonya dijual mulai dari Rp 650.000, Rp 750.000, hingga Rp 850.000. Setiap konsumen diberi kesempatan memesan sepatu sesuai dengan selera mereka.
Namun, konsumen yang ingin mengubah warna dan bahan dari model yang sudah ada akan dikenakan biaya tambahan sekitar Rp 150.000 dari harga aslinya.
Dalam sebulan, Seba Shoes rata-rata memproduksi sebanyak 500 sampai 600 pasang sepatu. Hasil produksi itu kemudian didistribusikan ke toko-toko resmi Seba Shoes. Setiap toko rata-rata mendapat pasokan 150 pasang sepatu. Dari situ, Seba Shoes bisa mengantongi omzet lebih dari Rp 300 juta dengan laba bersih di atas 10%.
"Produk sepatu kami ini masih diproduksi secara home industri di Bandung. Bahannya sendiri menggunakan kulit sapi luar dalam," jelas Ricky.
BAB III
Penutup
Sebagian
besar para pelaku bisnis dan perusahan yang melakukan pemasaran produk bisnis
kreatif mereka beralasan karena mereka melihat setiap kesempatan bisnis yang
ada dan mereka mengerti kebutuhan masyarakat yang menginginkan sebuah produk
inovasi.
Pesatnya
pertumbuhan penduduk dan semakin naiknya taraf dan gaya hidup masyarakat dewasa
ini merupakan peluang besar bagi para pebisnis untuk mempromosikan produk
kreatifnya dengan harapan sukses untuk penjualannya dan mendapat nama baik di
masyarakat. Maka daripada itu milikilah jiwa yang kreatif dan inovatif dalam
menjalankan kewirausahaan.
Daftar Pustaka
www.google.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar